Saturday, March 6, 2021

Review Polytron PS 30UV25R Chassis HBEE-012A

 

Review Polytron PS 30UV25R Chassis HBEE-012A

Nah Kali ini saya Posting Review TV Polytron CRT / Tabung Model PS 30UV25R yang menggunakan Chassis HBEE-012A
Menggunakan Koomponen Utama sebagai Berikut:

ic utama / MICOM :  HBT-01-04G
Vertical : LA78141-E
Hor. TR : C6090 / MD2009DFX Bisa diganti dgn D2498 = 12A
sound 1: LA44402 Woofer : TDA2030
Regulator : FET FQPF7N65C

FBT : JF0501-38534  : CoL-B+133v-GND-200v1-200v2-Heater-12v-ABL-17v-17v

Data PIN FBT Polytron

 1. Data PIN FBT Polytron

JF0501-38534
Digunakan untuk TV Polytron 29″Slim dan Ultra Slim.
Dengan Data PIN Sebagai Berikut:
1. Colector H
2. B+ 135 volt
3. Ground
4. NC
5. 185 volt
6. Heater
7. NC
8. ABL atau BCL
9. 17 volt +
10. 17 volt -.
2. Data PIN FBT Polytron
BSC29-0127N
TV Polytron 29″Flat Dan Slim
Dengan Data PIN Sebagai Berikut:
1. Colector H
2. B+ 135 volt
3. Ground
4. NC
5. 185 volt
6. Heater.
7. NC
8. ABL
9. 12 volt +
10. 12 volt -.
Sekilas Kedua Buah FBT JF0501-38534 dan BSC29-0127N
ini hampir sama,Bahkan Bisa Dibilang sama.
Yang Beda Hanya pada PIN 9 dan PIN 10 saja.
IC Vertikal Yang Digunakan
memiliki Ampere yang sama.
Untuk IC Vertikal Gunakan Yang Amperenya Paling Besar.
Misalnya gunakan saja IC Vertikal LA78045.
Terlebih kalau awalnya TV Polytron tersebut menggunakan
FBT BSC29-0127N Dan Mau Diganti Dengan JF0501-38534.
Ganti Dulu IC Vertikal Kalau Belum Menggunakan
LA78045.
Karena Kalau Tidak, Besar Kemungkinan IC Vertikal
Tidak Akan Bertahan Lama Kalau Diberi Tegangan 17 Volt CT
Dari FBT Tersebut.
3. Data PIN FBT Polytron
JF0501-19587
TV Polytron Model
Slim dan Ultra Slim 21″. Walau Terkadang Digunakan Juga
Untuk TV Model Slim Biasa (Menggunakan tabung Ultra Slim tapi Mesin Bukan Ultra Slim).
Untuk Data PIN Sebagi Berikut:
1. Colector H
2. B+ 115 volt
3. Ground
4. NC
5. 185 volt
6. Heater
7. NC
8. ABL
9. 12 volt +
10. 12 volt –
4. Data PIN FBT Polytron
JF0501-19584
TV Polytron Jenis Tabung Cembung, Sebagian Jenis Flat
Sebagian Senis Slim Biasa (Bukan Ultra Slim).
Dengan data
PIN Sebagai Berikut:
1. Colector H
2. B+ 115 volt
3. Ground.
4. NC
5. 185 volt
6. Heater
7. NC
8. ABL
9. 12 volt +
10. 12 volt –
Perhatikan Data PIN Dan Tegangan Out Dari FBT
JF0501-19587 dan FBT JF0501-19584.
Keduanya Sama Persis tidak Ada Perbedaan Sedikitpun.
Mungkin Hanya Bentuk Fisiknya Saja Yang Berbeda.
Walau Mungkin Harus Merubah Nilai Kapasitor
Dibagian Dumper Horisontal.
Karena Ada Sedikit Perbedaan Resistansi Lilitan Antara
Colektor Dan B+ Dari Dua Buah FBT Tersebut.
5. Data PIN FBT Polytron
JF0501-195913
FBT JF0501-19513
TV Polytron Model
Lama Yang Layarnya Masih Cembung Ukuran 14″ Sampai 21″.
Dengan Data PIN Sebagai berikut:
1. Colector H
2. B+ 115 volt
3. Ground.
4. 185 volt
5. NC
6. Heater
7. 25 volt
8. ABL
9. 12 volt
10. AFC.
Semoga Bisa Membantu Dalam Dunia Elekteronic

Skema Cara Membuat Charger Baterai 6-12V Otomatis(Auto Cut Off)

 Memang alat charger aki sudah banyak dijual dipasaran, namun kamu juga bisa  berekperimen merakit sendiri dengan keuntungan biaya yang murah serta mendapatkan ilmu. Komponen yang digunakan untuk charger baterai otomatis ini tidak banyak dan mudah didapatkan di toko komponen elektronika dimana-mana.

Charger otomatis bekerja memproses pengisian apabila tegangan dari baterai telah menurun dari tegangan maksimal dan akan memotong/mematikan proses pengisian tegangan pada saat baterai terisi penuh. Dengan cara otomatis maka baterai akan aman meskipun kamu kelupaan tidak melepas stop kontak dari jala-jala. Jadi meskipun tanpa dilengkapi dengan voltmeter pun baterai akan tetap aman. Hal ini tentu cocok apabila kamu adalah orang yang sibuk atau pelupa 😀

Skema Pengisi / Charger Aki Otomatis Auto-Cut-Off

skema dan cara membuat charger baterai 6V-12V

Menggunakan IC LM317 Sebagai Regulator

pin out IC LM317 regulator

Dalam rangkaian charger baterai berikut didesain dengan menggunakan IC regulator variabel yaitu IC LM317 dengan fitur auto-cut-off/pemutusan arus otomatis. Maka dengan sirkuit ini, output DC bisa diatur dengan menambahkan VR 10K sehingga bisa mengisi baterai mulai dari 6 volt hingga 12 Volt.

 

Cara Kerja

Trafo CT 15V memberikan tegangan ouput AC yang kemudian disearahkan 2x dioda in4007 dan elco 2200mF 12V sebagai filter, lalu kemudian masuk ke kaki 1(input) IC1 LM317. VR 10K berperan untuk mengatur rentang tegangan keluaran regulator melalui kaki 1(Adjust) kemudian keluaran regulator dari kaki 2(output).


LED berwarna Hijau akan menyala ketika proses pengisian sedang berlangsung(baterai dalam kondisi tegangan dibawah 12V), dan LED merah akan menyala ketika baterai terisi penuh  sementara led hijau akan mati. Pada saat baterai sudah fullcharge atau penuh, maka tegangan akan memungkinkan untuk mengalir melalui dioda Zener → menuju ke basis transistor BD139 sehingga transistor aktif. Hal ini karena konduktor pada transistor menyesuaikan teganganan pin IC regulator, sehingga terhubung ke ground dan hasilnya tegangan output dari regulator terputus dan pengisian berhenti.

CATATAN

  • 1. Berikan pendingin untuk IC LM317 karena akan panas.
  • 2. Tegangan output regulator dari IC LM317 bervariasai dengan rentang 1.2V – 37V yang diatur dengan VR 10K dalam skema diatas, sementara arus keluaran maksimum 1.5A.
  • 3. Trimpot untuk adjust, atur sampai LED hijau menyala dalam keadaan baterai terpasang. Lihat tegangan pengisian dengan menggunakan voltmeter/multimeter, sesuaikan dengan tegangan penuh baterai misalnya baterainya 12V maka tegangan penuh/cut outnya silakan disetel di 13,7V.
  • 4. Cocok untuk mengisi baterai kering 500mAh-9Ah atau aki sepeda motor atau baterai UPS 7Ah.
  • 5. Dioda yang bertanda dalam kotak kuning bisa dipakai bisa juga tidak/dijumper, gunanya untuk pengaman baterai jika terbalik pemasangannya.

SWR meter frekuensi tinggi

            Sebuah transceiver akan mengeluarkan daya penuh bila antenna benar-benar sesuai. Jika antenna diabaikan akan timbul efek samping, seperti rusaknya transmitter / pemancar. Menempatkan sebuah antenna yang sesuai diperlukan SWR-meter. Alat ini mudah dibeli di toko elektronika, namun harganya cukup mahal.

Standing Wave Ratio (SWR) sering juga disebut Voltage Standing Wave Ratio (VSWR). Umumnya transceiver mempunyai impedansi antenna 50Ω, bila dipasangkan dengan antenna yang tidak sesuai ( tidak 50Ω ), maka dikatakan transmisinya tidak sesuai atau tidak matching. Hal ini menyebabkan timbulnya daya refleksi (reflected power) pada saluran yang berinterferensi dengan daya maju (forward power). Interferensi ini menghasilkan gelombang berdiri (standing wave) yang besarnya tergantung dari besarnya daya refleksi.

Pengertian matching / matched pada suatu perangkat telekomunikasi ialah bila keluaran impedansi pemancar (Tx), saluran transmisi (kabel antenna) dan antenenya mempunyai impedansi yang sama (50Ω).

Dalam notasi matematis, VSWR atau SWR tidak memiliki dimensi karena merupakan perbandingan 2 buah variable yang berdimensi sama (voltage). Dengan rumus sebagai berikut:

SWR = [1 + RC] / [1 – RC] 


Dimana:

  • RC = | [ZL – Zo] / [ZL + Zo] |
  • ZL = impedansi  antenna (beban)
  • Zo = impedansi saluran transmisi (coax, feeder, dll)
  • Bila ZL atau Zo merupakan bilangan imajiner atau khayal, maka ZL atau Zo ini merupakan magnitudo dari bilangan tersebut.

Kita ambil contoh:

Contoh 1: Zo (Transmittion Line) = 50 Ohm, ZL (Antenna) = 50 Ohm

Maka, RC = [50-50]/[50+50]=0, maka SWR=[1+0]/[1-0]=1 (kondisi ini disebut matching / matched)

Contoh 2: Zo = 54 Ohm, ZL = 60 Ohm, maka SWR = 1,1

Contoh 3: Zo = 60 Ohm, ZL = 54 Ohm, maka SWR = 1,1

Contoh 4: Sebuah antenna dipole 1/4 lambda (masing-masing sayap panjangnya 1/4 lambda, total kedua sayap 1/2 lambda) memiliki impedansi 75 Ohm, bila antenna ini dihantarkan dengan kabel 50 ohm akan memberikan pembacaan VSWR atau SWR  = 1,5

Ide rancangan untuk membuat SWR sendiri bisa kita lakukan, mengingat harga SWR ‘ternama’ cukup mahal. SWR buatan sendiri nantinya kita kalibrasikan dengan SWR yang sudah terkalibrasi.

SWR-1

swr hf

SWR ini dirancang untuk bekerja pada frekuensi 3 – 30 MHZ (band HF). TR-1 adalah toroida Amidon T50-6 yang diberi lilitan primer 0,5 lilitan dengan email 1mm dan lilitan sekunder 30 lilitan dengan email 0,5 mm. Funsi TR-1 sebagai transformator dan meter menggunakan 100-250 µA. Tegangan maju adalah tegangan imbas dari Low Pass Filter C1, C3 dan R1 yang disearahkan oleh D1. Sedangkan tegangan balik (reflected power) didapat dari Low Pass Filter C2,C4 dan R2 yang disearahkan oleh D2. Hasilnya terbaca di meter M1.

SWR-2

 

swr vhf

SWR ini dirancang untuk bekerja pada band VHF / 2 meter band, (88 – 200 MHZ). Prinsipnya sama dengan SWR-1, hanya berbeda pada trafo dan penyesuaian nila komponen.  Pada VHF, sampling power cukup menggunakan induksi dari kawat sejajar dengan jarak 2 Cm. SWR-2 telah dilengkapi dengan power meter. Power meter dipadukan dengan pembacaan tegangan maju, sementara meter satunya sebagai pembaca tegangan balik / reflected. Saat pengukuran tegangan maju maksimum, harus mendapatkan tegangan balik minimum untuk mendapatkan SWR terbaik / matching.

 

Cara Kerja Rangkaian SWR VHF

Cara kerja rangkaian ini adalah, pertama melakukan pencuplikan (sampling) terhadap kedua gelombang berdiri arah forward dan reflected dengan diode. Selain mencuplik, diode tersebut berfungsi juga sebagai penyearah (rectifier), kemudian “shunt” kapasitor menahan laju gelombang tersebut dari AC menjadi DC. Tegangan DC ini menimbulkan arus DC pada kedua titik pengukuran, yang kemudian dibandingkan keduanya ke dalam sebuah DC mikroampere meter.

Cara Adjustment Rangkaian SWR

  1. Pasang RF Dummy Load dengan Watt secukupnya, lebih baik watt-nya lebih besar dibanding RF output dari transmitter.
  2. Putar P2 trimpot reflected adjuster ke posisi minimum, artinya tidak ada redaman terhadap arus menuju DC ampere meter reverse.
  3. Atur trimpot P1 untuk mendapatkan arus forward maksimum.
  4. Atus posisi potensiometer P3 forward (maksimum) pembacaan pada meter power.
  5. Pasang Transmitter dengan power secukupnya untuk membuat jarum forward mendefleksi secara penuh (5 Watt sudah cukup), dengan modulasi FM.
  6.  Lakukan adjustment pada potensiometer forward dan reflected sampai jarum forward tepat pada skala maksimumnya.
  7. Lakukan adjustment pada trimpot reflected adjuster sampai jarum reverse menyentuh skala NOL.

Bila perlu ulangi langkah 2 s/d 7, sampai benar-benar OK. Namun hati-hati jangan terlalu lama menyalakan transmitter, dan selalu periksa apakah RF dummy load tidak over-heating.

Tutup rangkaian SWR dengan box metal yang telah dibuat.

Cara Menggunakan SWR Meter

  1. Pasang antenna anda pada jack yang disediakan.
  2. Pasang Transmitter dengan power secukupnya untuk membuat jarum forward mendefleksi secara penuh (5 Watt sudah cukup), dengan modulasi FM .
  3. Coba transmit 1-2 detik.
  4. Atus posisi P3 potensiometer, atur sehingga meter PO pada posisi maksimum.
  5. Amati defleksi pada jarum SWR. Secara kasar korelasi antara jarum forward dan reflected dengan SWR adalah sebagai berikut:baca swr
  6.  SWR meter ini aman digunakan dalam komunikasi walaupun tetap terpasang pada saluran transmisi, namun ada RF power yang hilang beberapa dB dalam rangkaian directional coupler dan loss connector, namun kita dapat terus mengamati SWR kita selama berkomunikasi.
  7. Pastikan SWR < 1,3, untuk keamanan pesawat anda, daya pancar yang tidak optimum, kemungkinan interferensi, dll.

Untuk adjustment power meternya lebih mudah. Bila SWR sudah OK atau antenna sudah matching. Kita bisa lakukan ini dengan mengandaikan power HT maksimum 5 watt.

  1. Geser switch ke PWR (power)
  2. Gunakan mode low power switch 12 watt untuk HT output 5 watt
  3. Lihat di meter power, adjust trimpot P5 untuk penyesuaian.
  4. Lakukan hal yang sama untuk high power.