Saturday, March 20, 2021

Transistor sebagai Rangkaian Delay

 Transistor sebagai Rangkaian Delay








Sesuai dengan namanya, "Delay" yang berarti tunda, rangkaian ini menunda beberapa waktu untuk menghabiskan trigger yang diberi sebelumnya.
Rangkaian ini juga bekerja sesuai dengan cara kerja Kapasitor. sama seperti Flip-Flop.
Apabila anda memberi sekali trigger pada transistor, maka muatan kapasitor akan terisi sehingga transistor akan terus aktif untuk beberapa saat sampai seluruh muatan yang ada pada kapasitor benar benar habis.
Lamanya waktu tunda dipengaruhi oleh besarnya kapasitansi Kapasitor (C1), sedangkan lamanya waktu pengisian dipengaruhi oleh besarnya nilai resistansi Resistor (R1).
Jika nilai kapasitansi Kapasitornya besar, maka waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan seluruh muatan yang tersimpan di dalam kapasitor tersebut juga semakin lama, sehingga transistor akan terus diberi trigger oleh kapasitor tersebut dan aktif lebih lama pula. begitu juga sebaliknya.
Jika nilai resistansi Resistornya besar, maka waktu yang dibutuhkan untuk mengisi muatan kapasitor hingga benar benar penuh juga cukup lama, sehingga anda harus menahan triggernya hingga beberapa waktu hingga kapasitornya terisi penuh. begitu juga sebaliknya.

Anda dapat menggunakan rangkaian ini untuk berbagai keperluan. sebagai contoh, anda dapat membuat sebuah lampu tang dihidupkan dengan satu kali trigger dan akan mati secara otomatis setelah beberapa saat. silahkan gunakan kreativitas anda dengan rangkaian ini.

Transistor sebagai Indikator Charger

 





        Rangkaian yang satu ini merupakan Indikator pengisi baterai, dengan kata lain... apabila sebuah baterai yang sedang di charge sudah penuh, maka lampu indikator akan menyala. Cara kerjanya adalah, Apabila kita menghubungkan baterai yang sedang low dengan sebuah charger, maka tegangan yang dikeluarkan charger akan sedikit menurun. penurunan tersebutlah yang dimanfaatkan oleh rangkaian ini, jika tegangan menurun hingga titik tertentu, maka tidak ada tegangan yang melewati (dipotong) dioda zener, sehingga tidak ada trigger yang diberikan oleh dioda zener untuk mengaktifkan Transistor, sehingga lampu indikator tidak menyala.
Setelah baterai terisi penuh, maka tegangan pada charger akan kembali normal, sehingga ada sedikit tegangan berlebih yang dapat dipotong oleh dioda zener untuk memberi trigger kepada Transistor, sehingga Transistor akan aktif dan lampu indikator pun menyala.

Rangkaian ini cukup sulit untuk digunakan, tetapi mudah untuk dibuat. sebab, sangat sulit untuk menemukan perbandingan antara beda potensial dengan resistansi yang sesuai, agar lampu menyala ketika baterai benar benar terisi penuh. Saya Pribadi juga belum bisa menemukan perbandingan yang tepat. namun rangkaian ini wajib anda coba, karena akan menambah pengetahuan anda tentang bagaimana cara kerja dioda zener.
Selamat mencoba, kemungkinan anda akan berhasil menemukan perbandingannya. jika sudah berhasil, jangan lupa di share yaa :v

Satu hal terpenting, nilai dioda zener harus disesuaikan dengan tegangan charger anda. Jika tegangan charger 10V gunakan dioda 7.2 atau sedikit lebih rendah dari 7.2. #contoh

Saturday, March 6, 2021

Review Polytron PS 30UV25R Chassis HBEE-012A

 

Review Polytron PS 30UV25R Chassis HBEE-012A

Nah Kali ini saya Posting Review TV Polytron CRT / Tabung Model PS 30UV25R yang menggunakan Chassis HBEE-012A
Menggunakan Koomponen Utama sebagai Berikut:

ic utama / MICOM :  HBT-01-04G
Vertical : LA78141-E
Hor. TR : C6090 / MD2009DFX Bisa diganti dgn D2498 = 12A
sound 1: LA44402 Woofer : TDA2030
Regulator : FET FQPF7N65C

FBT : JF0501-38534  : CoL-B+133v-GND-200v1-200v2-Heater-12v-ABL-17v-17v

Data PIN FBT Polytron

 1. Data PIN FBT Polytron

JF0501-38534
Digunakan untuk TV Polytron 29″Slim dan Ultra Slim.
Dengan Data PIN Sebagai Berikut:
1. Colector H
2. B+ 135 volt
3. Ground
4. NC
5. 185 volt
6. Heater
7. NC
8. ABL atau BCL
9. 17 volt +
10. 17 volt -.
2. Data PIN FBT Polytron
BSC29-0127N
TV Polytron 29″Flat Dan Slim
Dengan Data PIN Sebagai Berikut:
1. Colector H
2. B+ 135 volt
3. Ground
4. NC
5. 185 volt
6. Heater.
7. NC
8. ABL
9. 12 volt +
10. 12 volt -.
Sekilas Kedua Buah FBT JF0501-38534 dan BSC29-0127N
ini hampir sama,Bahkan Bisa Dibilang sama.
Yang Beda Hanya pada PIN 9 dan PIN 10 saja.
IC Vertikal Yang Digunakan
memiliki Ampere yang sama.
Untuk IC Vertikal Gunakan Yang Amperenya Paling Besar.
Misalnya gunakan saja IC Vertikal LA78045.
Terlebih kalau awalnya TV Polytron tersebut menggunakan
FBT BSC29-0127N Dan Mau Diganti Dengan JF0501-38534.
Ganti Dulu IC Vertikal Kalau Belum Menggunakan
LA78045.
Karena Kalau Tidak, Besar Kemungkinan IC Vertikal
Tidak Akan Bertahan Lama Kalau Diberi Tegangan 17 Volt CT
Dari FBT Tersebut.
3. Data PIN FBT Polytron
JF0501-19587
TV Polytron Model
Slim dan Ultra Slim 21″. Walau Terkadang Digunakan Juga
Untuk TV Model Slim Biasa (Menggunakan tabung Ultra Slim tapi Mesin Bukan Ultra Slim).
Untuk Data PIN Sebagi Berikut:
1. Colector H
2. B+ 115 volt
3. Ground
4. NC
5. 185 volt
6. Heater
7. NC
8. ABL
9. 12 volt +
10. 12 volt –
4. Data PIN FBT Polytron
JF0501-19584
TV Polytron Jenis Tabung Cembung, Sebagian Jenis Flat
Sebagian Senis Slim Biasa (Bukan Ultra Slim).
Dengan data
PIN Sebagai Berikut:
1. Colector H
2. B+ 115 volt
3. Ground.
4. NC
5. 185 volt
6. Heater
7. NC
8. ABL
9. 12 volt +
10. 12 volt –
Perhatikan Data PIN Dan Tegangan Out Dari FBT
JF0501-19587 dan FBT JF0501-19584.
Keduanya Sama Persis tidak Ada Perbedaan Sedikitpun.
Mungkin Hanya Bentuk Fisiknya Saja Yang Berbeda.
Walau Mungkin Harus Merubah Nilai Kapasitor
Dibagian Dumper Horisontal.
Karena Ada Sedikit Perbedaan Resistansi Lilitan Antara
Colektor Dan B+ Dari Dua Buah FBT Tersebut.
5. Data PIN FBT Polytron
JF0501-195913
FBT JF0501-19513
TV Polytron Model
Lama Yang Layarnya Masih Cembung Ukuran 14″ Sampai 21″.
Dengan Data PIN Sebagai berikut:
1. Colector H
2. B+ 115 volt
3. Ground.
4. 185 volt
5. NC
6. Heater
7. 25 volt
8. ABL
9. 12 volt
10. AFC.
Semoga Bisa Membantu Dalam Dunia Elekteronic

Skema Cara Membuat Charger Baterai 6-12V Otomatis(Auto Cut Off)

 Memang alat charger aki sudah banyak dijual dipasaran, namun kamu juga bisa  berekperimen merakit sendiri dengan keuntungan biaya yang murah serta mendapatkan ilmu. Komponen yang digunakan untuk charger baterai otomatis ini tidak banyak dan mudah didapatkan di toko komponen elektronika dimana-mana.

Charger otomatis bekerja memproses pengisian apabila tegangan dari baterai telah menurun dari tegangan maksimal dan akan memotong/mematikan proses pengisian tegangan pada saat baterai terisi penuh. Dengan cara otomatis maka baterai akan aman meskipun kamu kelupaan tidak melepas stop kontak dari jala-jala. Jadi meskipun tanpa dilengkapi dengan voltmeter pun baterai akan tetap aman. Hal ini tentu cocok apabila kamu adalah orang yang sibuk atau pelupa 😀

Skema Pengisi / Charger Aki Otomatis Auto-Cut-Off

skema dan cara membuat charger baterai 6V-12V

Menggunakan IC LM317 Sebagai Regulator

pin out IC LM317 regulator

Dalam rangkaian charger baterai berikut didesain dengan menggunakan IC regulator variabel yaitu IC LM317 dengan fitur auto-cut-off/pemutusan arus otomatis. Maka dengan sirkuit ini, output DC bisa diatur dengan menambahkan VR 10K sehingga bisa mengisi baterai mulai dari 6 volt hingga 12 Volt.

 

Cara Kerja

Trafo CT 15V memberikan tegangan ouput AC yang kemudian disearahkan 2x dioda in4007 dan elco 2200mF 12V sebagai filter, lalu kemudian masuk ke kaki 1(input) IC1 LM317. VR 10K berperan untuk mengatur rentang tegangan keluaran regulator melalui kaki 1(Adjust) kemudian keluaran regulator dari kaki 2(output).


LED berwarna Hijau akan menyala ketika proses pengisian sedang berlangsung(baterai dalam kondisi tegangan dibawah 12V), dan LED merah akan menyala ketika baterai terisi penuh  sementara led hijau akan mati. Pada saat baterai sudah fullcharge atau penuh, maka tegangan akan memungkinkan untuk mengalir melalui dioda Zener → menuju ke basis transistor BD139 sehingga transistor aktif. Hal ini karena konduktor pada transistor menyesuaikan teganganan pin IC regulator, sehingga terhubung ke ground dan hasilnya tegangan output dari regulator terputus dan pengisian berhenti.

CATATAN

  • 1. Berikan pendingin untuk IC LM317 karena akan panas.
  • 2. Tegangan output regulator dari IC LM317 bervariasai dengan rentang 1.2V – 37V yang diatur dengan VR 10K dalam skema diatas, sementara arus keluaran maksimum 1.5A.
  • 3. Trimpot untuk adjust, atur sampai LED hijau menyala dalam keadaan baterai terpasang. Lihat tegangan pengisian dengan menggunakan voltmeter/multimeter, sesuaikan dengan tegangan penuh baterai misalnya baterainya 12V maka tegangan penuh/cut outnya silakan disetel di 13,7V.
  • 4. Cocok untuk mengisi baterai kering 500mAh-9Ah atau aki sepeda motor atau baterai UPS 7Ah.
  • 5. Dioda yang bertanda dalam kotak kuning bisa dipakai bisa juga tidak/dijumper, gunanya untuk pengaman baterai jika terbalik pemasangannya.

SWR meter frekuensi tinggi

            Sebuah transceiver akan mengeluarkan daya penuh bila antenna benar-benar sesuai. Jika antenna diabaikan akan timbul efek samping, seperti rusaknya transmitter / pemancar. Menempatkan sebuah antenna yang sesuai diperlukan SWR-meter. Alat ini mudah dibeli di toko elektronika, namun harganya cukup mahal.

Standing Wave Ratio (SWR) sering juga disebut Voltage Standing Wave Ratio (VSWR). Umumnya transceiver mempunyai impedansi antenna 50Ω, bila dipasangkan dengan antenna yang tidak sesuai ( tidak 50Ω ), maka dikatakan transmisinya tidak sesuai atau tidak matching. Hal ini menyebabkan timbulnya daya refleksi (reflected power) pada saluran yang berinterferensi dengan daya maju (forward power). Interferensi ini menghasilkan gelombang berdiri (standing wave) yang besarnya tergantung dari besarnya daya refleksi.

Pengertian matching / matched pada suatu perangkat telekomunikasi ialah bila keluaran impedansi pemancar (Tx), saluran transmisi (kabel antenna) dan antenenya mempunyai impedansi yang sama (50Ω).

Dalam notasi matematis, VSWR atau SWR tidak memiliki dimensi karena merupakan perbandingan 2 buah variable yang berdimensi sama (voltage). Dengan rumus sebagai berikut:

SWR = [1 + RC] / [1 – RC] 


Dimana:

  • RC = | [ZL – Zo] / [ZL + Zo] |
  • ZL = impedansi  antenna (beban)
  • Zo = impedansi saluran transmisi (coax, feeder, dll)
  • Bila ZL atau Zo merupakan bilangan imajiner atau khayal, maka ZL atau Zo ini merupakan magnitudo dari bilangan tersebut.

Kita ambil contoh:

Contoh 1: Zo (Transmittion Line) = 50 Ohm, ZL (Antenna) = 50 Ohm

Maka, RC = [50-50]/[50+50]=0, maka SWR=[1+0]/[1-0]=1 (kondisi ini disebut matching / matched)

Contoh 2: Zo = 54 Ohm, ZL = 60 Ohm, maka SWR = 1,1

Contoh 3: Zo = 60 Ohm, ZL = 54 Ohm, maka SWR = 1,1

Contoh 4: Sebuah antenna dipole 1/4 lambda (masing-masing sayap panjangnya 1/4 lambda, total kedua sayap 1/2 lambda) memiliki impedansi 75 Ohm, bila antenna ini dihantarkan dengan kabel 50 ohm akan memberikan pembacaan VSWR atau SWR  = 1,5

Ide rancangan untuk membuat SWR sendiri bisa kita lakukan, mengingat harga SWR ‘ternama’ cukup mahal. SWR buatan sendiri nantinya kita kalibrasikan dengan SWR yang sudah terkalibrasi.

SWR-1

swr hf

SWR ini dirancang untuk bekerja pada frekuensi 3 – 30 MHZ (band HF). TR-1 adalah toroida Amidon T50-6 yang diberi lilitan primer 0,5 lilitan dengan email 1mm dan lilitan sekunder 30 lilitan dengan email 0,5 mm. Funsi TR-1 sebagai transformator dan meter menggunakan 100-250 µA. Tegangan maju adalah tegangan imbas dari Low Pass Filter C1, C3 dan R1 yang disearahkan oleh D1. Sedangkan tegangan balik (reflected power) didapat dari Low Pass Filter C2,C4 dan R2 yang disearahkan oleh D2. Hasilnya terbaca di meter M1.

SWR-2

 

swr vhf

SWR ini dirancang untuk bekerja pada band VHF / 2 meter band, (88 – 200 MHZ). Prinsipnya sama dengan SWR-1, hanya berbeda pada trafo dan penyesuaian nila komponen.  Pada VHF, sampling power cukup menggunakan induksi dari kawat sejajar dengan jarak 2 Cm. SWR-2 telah dilengkapi dengan power meter. Power meter dipadukan dengan pembacaan tegangan maju, sementara meter satunya sebagai pembaca tegangan balik / reflected. Saat pengukuran tegangan maju maksimum, harus mendapatkan tegangan balik minimum untuk mendapatkan SWR terbaik / matching.

 

Cara Kerja Rangkaian SWR VHF

Cara kerja rangkaian ini adalah, pertama melakukan pencuplikan (sampling) terhadap kedua gelombang berdiri arah forward dan reflected dengan diode. Selain mencuplik, diode tersebut berfungsi juga sebagai penyearah (rectifier), kemudian “shunt” kapasitor menahan laju gelombang tersebut dari AC menjadi DC. Tegangan DC ini menimbulkan arus DC pada kedua titik pengukuran, yang kemudian dibandingkan keduanya ke dalam sebuah DC mikroampere meter.

Cara Adjustment Rangkaian SWR

  1. Pasang RF Dummy Load dengan Watt secukupnya, lebih baik watt-nya lebih besar dibanding RF output dari transmitter.
  2. Putar P2 trimpot reflected adjuster ke posisi minimum, artinya tidak ada redaman terhadap arus menuju DC ampere meter reverse.
  3. Atur trimpot P1 untuk mendapatkan arus forward maksimum.
  4. Atus posisi potensiometer P3 forward (maksimum) pembacaan pada meter power.
  5. Pasang Transmitter dengan power secukupnya untuk membuat jarum forward mendefleksi secara penuh (5 Watt sudah cukup), dengan modulasi FM.
  6.  Lakukan adjustment pada potensiometer forward dan reflected sampai jarum forward tepat pada skala maksimumnya.
  7. Lakukan adjustment pada trimpot reflected adjuster sampai jarum reverse menyentuh skala NOL.

Bila perlu ulangi langkah 2 s/d 7, sampai benar-benar OK. Namun hati-hati jangan terlalu lama menyalakan transmitter, dan selalu periksa apakah RF dummy load tidak over-heating.

Tutup rangkaian SWR dengan box metal yang telah dibuat.

Cara Menggunakan SWR Meter

  1. Pasang antenna anda pada jack yang disediakan.
  2. Pasang Transmitter dengan power secukupnya untuk membuat jarum forward mendefleksi secara penuh (5 Watt sudah cukup), dengan modulasi FM .
  3. Coba transmit 1-2 detik.
  4. Atus posisi P3 potensiometer, atur sehingga meter PO pada posisi maksimum.
  5. Amati defleksi pada jarum SWR. Secara kasar korelasi antara jarum forward dan reflected dengan SWR adalah sebagai berikut:baca swr
  6.  SWR meter ini aman digunakan dalam komunikasi walaupun tetap terpasang pada saluran transmisi, namun ada RF power yang hilang beberapa dB dalam rangkaian directional coupler dan loss connector, namun kita dapat terus mengamati SWR kita selama berkomunikasi.
  7. Pastikan SWR < 1,3, untuk keamanan pesawat anda, daya pancar yang tidak optimum, kemungkinan interferensi, dll.

Untuk adjustment power meternya lebih mudah. Bila SWR sudah OK atau antenna sudah matching. Kita bisa lakukan ini dengan mengandaikan power HT maksimum 5 watt.

  1. Geser switch ke PWR (power)
  2. Gunakan mode low power switch 12 watt untuk HT output 5 watt
  3. Lihat di meter power, adjust trimpot P5 untuk penyesuaian.
  4. Lakukan hal yang sama untuk high power.


Tuesday, January 12, 2021

TV POLYTRON 21'' inch PS52UV81G RUSAK TIDAK BISA AV

 Kali ini kita akan membahas tentang Berbagai macam kerusakan tv polytron 21 inci model terbaru produksi 2013 keatas dengan Type PS52UV03G / PS52UV03M / PS03UV03MG / PS52UV03 / PS52UV222 / PC52UV81 / PC52UV81M / PS52UV81 / PS52UV81M / PS52UP123 / PS52UV22 / PS52UV232 / PC52UV222G / PC52UV222 / PS52UV222G  dengan kerusakan :


1. Mati Total Dan MCB Membalik / Balik / Dan Naik Supply / Tegangan Naik .

Kerusakan mati total banyak disebabkan oleh banyak hal . namun yang biasanya terjadi adalah sekring atau fuse putus di karenakan oleh 4 DIODA 4 PRIMER NO DIAGRAM D528 - D529 - D530 - D531 dan dengan nomor dioda D IN4007 ATAU D IN5408. dan bisa juga di karenakan oleh TRANSISTOR FET 7N65 . jika di temui short atau rusak 7N65 maka sebaiknya di ganti sekalian dengan dioda primer diatas dan ganti juga TRANSISTOR A1015 DAN C1815 .  setelah diganti maka sebaiknya di ukur dulu bagian CAPASITOR B+  apakah terjadi short atau tidak, jika di ukur masih short bisa jadi itu sebab nya power supply primer mengalami masalah . sebaik nya di perbaiki dahulu bagian TEGANGAN +110 VOLT B+ tersebut dengan melepaskan komponen nya satu persatu . pertama coba ukur DIODA B+ STTH  dengan no diagram D505 . Jika tidak short atau rusak maka coba lepaskan TRANSISTOR HORIZONTAL   dengan no Diagram T801 . jika masih xhort juga coba lepaskan kaki FLYBACK DAN SEMUA KOMPONEN YANG BERHUBUNGAN DENGAN JALUR B+ . jika sudah tidak ada yang short maka silahkan tes ke listrik dengan kondisi PROF ATAU JARUM MULTI PADA B+ .

Jika tegangan yang berada di B+ Lebih dari +110 V  berarti power supply masih bermasalah . maslah bisa jadi pada bagian PRIMER DAN SEKUNDER . untuk mengetahui komponen bagian mana yang bermasalah silahkan ikuti TRIK BERIKUT , GANTI IC OTOCOPLER 817 LALU silahkan ambil TIMAH DAN SOLDER lalu GABUNGKAN KAKI ATAU PIN 3 DAN 4 IC OTOCPLER 817 ( DI SHORTKAN ) LALU COLOK KEMBALI KE 220VAC JIKA OUTPUT B+ NGEDROP / NGEDROB MAKA PERMASALAHAN BERADA PADA BAGIAN SEKUNDER , JIKA TETAP TINGGI ATAU NAIK MELEWATI DARI +110 VOLT MAKA KERUSAKAN KOMPONEN MASIH DI AREA PRIMER , komponen yang bermasalah pada rangkaian PRIMER BIASANYA ADA DIODA YANG PUTUS CEK NO  DIAGRAM  D501 D502 D503 D504 DAN JUGA IC431 / KIA431 / TL431 DAN JUGA RESISTOR 100K OHM PUTUS DENGAN NO DIAGRAM R503 R542 R547 . 

2.STANBY

Standby dapat terjadi banyak sebab , biasanya CAPASITOR ATAU ELKO KERING silahkan ganti semua elko sekunder untuk tegangan B+ +110VOLT +12V -12V +50V jika masih stanby maka silahkan coba UKUR TEGANGAN +12V DAN -12V TEGANGAN ITU HARUS ADA UNTUK SYARAT KERJA IC VERTIKAL ,  JIka masih stanby GANTI CAPASITOR VERTIKAL 1 UF DAN 100 UF NO DIAGRAM C402 DAN C408 . Jika masih stanby juga silahkan ganti IC VERTIKAL 78141 . 

Jika sejauh ini tv masih juga  STANDBY  maka kemungkinan standby dapat di akibatkan dari IC MICOM HBT-05-001G / HBT-01-005G / HBT-04-003G cara untuk memastikan ic tersebut rusak atau tidak silahkan ikuti langkah berikut . Pertama tama silahkan Cari TRANSISTOR C1815  DENGAN NO DIAGRAM T506  Lalu coba lepas KAKI COLEKTOR pada transistor tersebut Lalu colokan tv ke 220VAC Lalu UKUR KAKI EMITOR TRANSISTOR 882 NO DIAGRAM T502 HARUS ADA +5V DAN KAKI EMITOR TRANSISTOR 882 NO DIAGRAM T503 HARUS ADA +8V . Jika tegangan  NGEDROP / NGEDROB Maka positig IC MICOM HBT-05-001G / HBT-01-005G / HBT-04-003G ANDA RUSAK . 

JIKA ANDA MEMBUTUHKAN PART IC MICOM  HBT-05-001G / HBT-01-005G / HBT-04-003G SILAHKAN PESAN PADA LINK DI BAWAH INI:

 
3.GAMBAR PELANGI

Kerusakan ini bukan kerusakan serius , penyebab kerusakan tv ini biasanya karena TV DEKAT DENGAN SPEAKER AKTIF ATAU BARANG MENGANDUNG MAGNET LAINNYA . silahkan jauhkan TV anda dari barang lain yang mengandung magnet , dan juga da salah satu part yang rusak atau
 komponen rusak biasanya pada PTC:
GAMBAR BELANG
PTC YANG RUSAK
4.TIDAK BISA AV

Kerusakan ini dapat debabkan oleh bebrapa komponen , biasanya pada TRANSISTOR PEMBAGI AV SMD NO DIAGRAM T308 , T309 , T310 DENGAN SERI TRANSIDTOR " L.G " / " X.C " / " 1F " / " 3F " . DAN PERSAMAAN TRANSISTOR TERSEBUT SEBAGAI  BERIKUT :

 LG = 1F = C1815
XC= 3F = A1015

Jika transistor tersebut sudah di ganti , kemungkinan IC MICOM HBT-05-001G / HBT-01-005G / HBT-04-003G ANDA RUSAK .  Untuk memastikan ic micom anda rusak atau tidak silahkan ikuti petunjuk berikut .

Silahkan anda cari CAPASITOR ELKO DENGAN NO DIAGRAM C310 LALU COBA LEPASKAN CAPASITOR TERSEBUT DARI PAPAN PCB , LALU COLOK KAN TV ANDA KE 220VAC , JIKA  LAYAR TV TERJADI KEDIP KEDIP CLAP CLAP BERARTI IC MICOM ANDA MASIH BAGUS DAN RESPON TERHADAP SIGNAL AV , KEMUNGKINAN ANDA ADA KESALAHAN PADA SAAT PEMASANGAN TRANSISTOR PEMBAGI AV SILAHKAN DI CEK KEMBALI. NAMUN JIKA  TIDAK ADA RESPON SAMA SEKALI DAN LAYAR TV ANDA ADEM AYEM DAN TIDAK BER EFEK SEDIKIT PUN BERARTI IC MICOM HBT-05-001G / HBT-01-005G / HBT-04-003G ANDA RUSAK KARENA TIDAK DAPAT MERESPON SIGNAL AV . 

JIKA ANDA MEMBUTUHKAN PART IC MICOM  HBT-05-001G / HBT-01-005G / HBT-04-003G SILAHKAN PESAN PADA LINK DI BAWAH INI: