Saturday, March 6, 2021

Skema Cara Membuat Charger Baterai 6-12V Otomatis(Auto Cut Off)

 Memang alat charger aki sudah banyak dijual dipasaran, namun kamu juga bisa  berekperimen merakit sendiri dengan keuntungan biaya yang murah serta mendapatkan ilmu. Komponen yang digunakan untuk charger baterai otomatis ini tidak banyak dan mudah didapatkan di toko komponen elektronika dimana-mana.

Charger otomatis bekerja memproses pengisian apabila tegangan dari baterai telah menurun dari tegangan maksimal dan akan memotong/mematikan proses pengisian tegangan pada saat baterai terisi penuh. Dengan cara otomatis maka baterai akan aman meskipun kamu kelupaan tidak melepas stop kontak dari jala-jala. Jadi meskipun tanpa dilengkapi dengan voltmeter pun baterai akan tetap aman. Hal ini tentu cocok apabila kamu adalah orang yang sibuk atau pelupa 😀

Skema Pengisi / Charger Aki Otomatis Auto-Cut-Off

skema dan cara membuat charger baterai 6V-12V

Menggunakan IC LM317 Sebagai Regulator

pin out IC LM317 regulator

Dalam rangkaian charger baterai berikut didesain dengan menggunakan IC regulator variabel yaitu IC LM317 dengan fitur auto-cut-off/pemutusan arus otomatis. Maka dengan sirkuit ini, output DC bisa diatur dengan menambahkan VR 10K sehingga bisa mengisi baterai mulai dari 6 volt hingga 12 Volt.

 

Cara Kerja

Trafo CT 15V memberikan tegangan ouput AC yang kemudian disearahkan 2x dioda in4007 dan elco 2200mF 12V sebagai filter, lalu kemudian masuk ke kaki 1(input) IC1 LM317. VR 10K berperan untuk mengatur rentang tegangan keluaran regulator melalui kaki 1(Adjust) kemudian keluaran regulator dari kaki 2(output).


LED berwarna Hijau akan menyala ketika proses pengisian sedang berlangsung(baterai dalam kondisi tegangan dibawah 12V), dan LED merah akan menyala ketika baterai terisi penuh  sementara led hijau akan mati. Pada saat baterai sudah fullcharge atau penuh, maka tegangan akan memungkinkan untuk mengalir melalui dioda Zener → menuju ke basis transistor BD139 sehingga transistor aktif. Hal ini karena konduktor pada transistor menyesuaikan teganganan pin IC regulator, sehingga terhubung ke ground dan hasilnya tegangan output dari regulator terputus dan pengisian berhenti.

CATATAN

  • 1. Berikan pendingin untuk IC LM317 karena akan panas.
  • 2. Tegangan output regulator dari IC LM317 bervariasai dengan rentang 1.2V – 37V yang diatur dengan VR 10K dalam skema diatas, sementara arus keluaran maksimum 1.5A.
  • 3. Trimpot untuk adjust, atur sampai LED hijau menyala dalam keadaan baterai terpasang. Lihat tegangan pengisian dengan menggunakan voltmeter/multimeter, sesuaikan dengan tegangan penuh baterai misalnya baterainya 12V maka tegangan penuh/cut outnya silakan disetel di 13,7V.
  • 4. Cocok untuk mengisi baterai kering 500mAh-9Ah atau aki sepeda motor atau baterai UPS 7Ah.
  • 5. Dioda yang bertanda dalam kotak kuning bisa dipakai bisa juga tidak/dijumper, gunanya untuk pengaman baterai jika terbalik pemasangannya.

SWR meter frekuensi tinggi

            Sebuah transceiver akan mengeluarkan daya penuh bila antenna benar-benar sesuai. Jika antenna diabaikan akan timbul efek samping, seperti rusaknya transmitter / pemancar. Menempatkan sebuah antenna yang sesuai diperlukan SWR-meter. Alat ini mudah dibeli di toko elektronika, namun harganya cukup mahal.

Standing Wave Ratio (SWR) sering juga disebut Voltage Standing Wave Ratio (VSWR). Umumnya transceiver mempunyai impedansi antenna 50Ω, bila dipasangkan dengan antenna yang tidak sesuai ( tidak 50Ω ), maka dikatakan transmisinya tidak sesuai atau tidak matching. Hal ini menyebabkan timbulnya daya refleksi (reflected power) pada saluran yang berinterferensi dengan daya maju (forward power). Interferensi ini menghasilkan gelombang berdiri (standing wave) yang besarnya tergantung dari besarnya daya refleksi.

Pengertian matching / matched pada suatu perangkat telekomunikasi ialah bila keluaran impedansi pemancar (Tx), saluran transmisi (kabel antenna) dan antenenya mempunyai impedansi yang sama (50Ω).

Dalam notasi matematis, VSWR atau SWR tidak memiliki dimensi karena merupakan perbandingan 2 buah variable yang berdimensi sama (voltage). Dengan rumus sebagai berikut:

SWR = [1 + RC] / [1 – RC] 


Dimana:

  • RC = | [ZL – Zo] / [ZL + Zo] |
  • ZL = impedansi  antenna (beban)
  • Zo = impedansi saluran transmisi (coax, feeder, dll)
  • Bila ZL atau Zo merupakan bilangan imajiner atau khayal, maka ZL atau Zo ini merupakan magnitudo dari bilangan tersebut.

Kita ambil contoh:

Contoh 1: Zo (Transmittion Line) = 50 Ohm, ZL (Antenna) = 50 Ohm

Maka, RC = [50-50]/[50+50]=0, maka SWR=[1+0]/[1-0]=1 (kondisi ini disebut matching / matched)

Contoh 2: Zo = 54 Ohm, ZL = 60 Ohm, maka SWR = 1,1

Contoh 3: Zo = 60 Ohm, ZL = 54 Ohm, maka SWR = 1,1

Contoh 4: Sebuah antenna dipole 1/4 lambda (masing-masing sayap panjangnya 1/4 lambda, total kedua sayap 1/2 lambda) memiliki impedansi 75 Ohm, bila antenna ini dihantarkan dengan kabel 50 ohm akan memberikan pembacaan VSWR atau SWR  = 1,5

Ide rancangan untuk membuat SWR sendiri bisa kita lakukan, mengingat harga SWR ‘ternama’ cukup mahal. SWR buatan sendiri nantinya kita kalibrasikan dengan SWR yang sudah terkalibrasi.

SWR-1

swr hf

SWR ini dirancang untuk bekerja pada frekuensi 3 – 30 MHZ (band HF). TR-1 adalah toroida Amidon T50-6 yang diberi lilitan primer 0,5 lilitan dengan email 1mm dan lilitan sekunder 30 lilitan dengan email 0,5 mm. Funsi TR-1 sebagai transformator dan meter menggunakan 100-250 µA. Tegangan maju adalah tegangan imbas dari Low Pass Filter C1, C3 dan R1 yang disearahkan oleh D1. Sedangkan tegangan balik (reflected power) didapat dari Low Pass Filter C2,C4 dan R2 yang disearahkan oleh D2. Hasilnya terbaca di meter M1.

SWR-2

 

swr vhf

SWR ini dirancang untuk bekerja pada band VHF / 2 meter band, (88 – 200 MHZ). Prinsipnya sama dengan SWR-1, hanya berbeda pada trafo dan penyesuaian nila komponen.  Pada VHF, sampling power cukup menggunakan induksi dari kawat sejajar dengan jarak 2 Cm. SWR-2 telah dilengkapi dengan power meter. Power meter dipadukan dengan pembacaan tegangan maju, sementara meter satunya sebagai pembaca tegangan balik / reflected. Saat pengukuran tegangan maju maksimum, harus mendapatkan tegangan balik minimum untuk mendapatkan SWR terbaik / matching.

 

Cara Kerja Rangkaian SWR VHF

Cara kerja rangkaian ini adalah, pertama melakukan pencuplikan (sampling) terhadap kedua gelombang berdiri arah forward dan reflected dengan diode. Selain mencuplik, diode tersebut berfungsi juga sebagai penyearah (rectifier), kemudian “shunt” kapasitor menahan laju gelombang tersebut dari AC menjadi DC. Tegangan DC ini menimbulkan arus DC pada kedua titik pengukuran, yang kemudian dibandingkan keduanya ke dalam sebuah DC mikroampere meter.

Cara Adjustment Rangkaian SWR

  1. Pasang RF Dummy Load dengan Watt secukupnya, lebih baik watt-nya lebih besar dibanding RF output dari transmitter.
  2. Putar P2 trimpot reflected adjuster ke posisi minimum, artinya tidak ada redaman terhadap arus menuju DC ampere meter reverse.
  3. Atur trimpot P1 untuk mendapatkan arus forward maksimum.
  4. Atus posisi potensiometer P3 forward (maksimum) pembacaan pada meter power.
  5. Pasang Transmitter dengan power secukupnya untuk membuat jarum forward mendefleksi secara penuh (5 Watt sudah cukup), dengan modulasi FM.
  6.  Lakukan adjustment pada potensiometer forward dan reflected sampai jarum forward tepat pada skala maksimumnya.
  7. Lakukan adjustment pada trimpot reflected adjuster sampai jarum reverse menyentuh skala NOL.

Bila perlu ulangi langkah 2 s/d 7, sampai benar-benar OK. Namun hati-hati jangan terlalu lama menyalakan transmitter, dan selalu periksa apakah RF dummy load tidak over-heating.

Tutup rangkaian SWR dengan box metal yang telah dibuat.

Cara Menggunakan SWR Meter

  1. Pasang antenna anda pada jack yang disediakan.
  2. Pasang Transmitter dengan power secukupnya untuk membuat jarum forward mendefleksi secara penuh (5 Watt sudah cukup), dengan modulasi FM .
  3. Coba transmit 1-2 detik.
  4. Atus posisi P3 potensiometer, atur sehingga meter PO pada posisi maksimum.
  5. Amati defleksi pada jarum SWR. Secara kasar korelasi antara jarum forward dan reflected dengan SWR adalah sebagai berikut:baca swr
  6.  SWR meter ini aman digunakan dalam komunikasi walaupun tetap terpasang pada saluran transmisi, namun ada RF power yang hilang beberapa dB dalam rangkaian directional coupler dan loss connector, namun kita dapat terus mengamati SWR kita selama berkomunikasi.
  7. Pastikan SWR < 1,3, untuk keamanan pesawat anda, daya pancar yang tidak optimum, kemungkinan interferensi, dll.

Untuk adjustment power meternya lebih mudah. Bila SWR sudah OK atau antenna sudah matching. Kita bisa lakukan ini dengan mengandaikan power HT maksimum 5 watt.

  1. Geser switch ke PWR (power)
  2. Gunakan mode low power switch 12 watt untuk HT output 5 watt
  3. Lihat di meter power, adjust trimpot P5 untuk penyesuaian.
  4. Lakukan hal yang sama untuk high power.


Tuesday, January 12, 2021

TV POLYTRON 21'' inch PS52UV81G RUSAK TIDAK BISA AV

 Kali ini kita akan membahas tentang Berbagai macam kerusakan tv polytron 21 inci model terbaru produksi 2013 keatas dengan Type PS52UV03G / PS52UV03M / PS03UV03MG / PS52UV03 / PS52UV222 / PC52UV81 / PC52UV81M / PS52UV81 / PS52UV81M / PS52UP123 / PS52UV22 / PS52UV232 / PC52UV222G / PC52UV222 / PS52UV222G  dengan kerusakan :


1. Mati Total Dan MCB Membalik / Balik / Dan Naik Supply / Tegangan Naik .

Kerusakan mati total banyak disebabkan oleh banyak hal . namun yang biasanya terjadi adalah sekring atau fuse putus di karenakan oleh 4 DIODA 4 PRIMER NO DIAGRAM D528 - D529 - D530 - D531 dan dengan nomor dioda D IN4007 ATAU D IN5408. dan bisa juga di karenakan oleh TRANSISTOR FET 7N65 . jika di temui short atau rusak 7N65 maka sebaiknya di ganti sekalian dengan dioda primer diatas dan ganti juga TRANSISTOR A1015 DAN C1815 .  setelah diganti maka sebaiknya di ukur dulu bagian CAPASITOR B+  apakah terjadi short atau tidak, jika di ukur masih short bisa jadi itu sebab nya power supply primer mengalami masalah . sebaik nya di perbaiki dahulu bagian TEGANGAN +110 VOLT B+ tersebut dengan melepaskan komponen nya satu persatu . pertama coba ukur DIODA B+ STTH  dengan no diagram D505 . Jika tidak short atau rusak maka coba lepaskan TRANSISTOR HORIZONTAL   dengan no Diagram T801 . jika masih xhort juga coba lepaskan kaki FLYBACK DAN SEMUA KOMPONEN YANG BERHUBUNGAN DENGAN JALUR B+ . jika sudah tidak ada yang short maka silahkan tes ke listrik dengan kondisi PROF ATAU JARUM MULTI PADA B+ .

Jika tegangan yang berada di B+ Lebih dari +110 V  berarti power supply masih bermasalah . maslah bisa jadi pada bagian PRIMER DAN SEKUNDER . untuk mengetahui komponen bagian mana yang bermasalah silahkan ikuti TRIK BERIKUT GANTI IC OTOCOPLER 817 LALU silahkan ambil TIMAH DAN SOLDER lalu GABUNGKAN KAKI ATAU PIN 3 DAN 4 IC OTOCPLER 817 ( DI SHORTKAN ) LALU COLOK KEMBALI KE 220VAC JIKA OUTPUT B+ NGEDROP / NGEDROB MAKA PERMASALAHAN BERADA PADA BAGIAN SEKUNDER , JIKA TETAP TINGGI ATAU NAIK MELEWATI DARI +110 VOLT MAKA KERUSAKAN KOMPONEN MASIH DI AREA PRIMER , komponen yang bermasalah pada rangkaian PRIMER BIASANYA ADA DIODA YANG PUTUS CEK NO  DIAGRAM  D501 D502 D503 D504 DAN JUGA IC431 / KIA431 / TL431 DAN JUGA RESISTOR 100K OHM PUTUS DENGAN NO DIAGRAM R503 R542 R547 . 

2.STANBY

Standby dapat terjadi banyak sebab , biasanya CAPASITOR ATAU ELKO KERING silahkan ganti semua elko sekunder untuk tegangan B+ +110VOLT +12V -12V +50V jika masih stanby maka silahkan coba UKUR TEGANGAN +12V DAN -12V TEGANGAN ITU HARUS ADA UNTUK SYARAT KERJA IC VERTIKAL ,  JIka masih stanby GANTI CAPASITOR VERTIKAL 1 UF DAN 100 UF NO DIAGRAM C402 DAN C408 . Jika masih stanby juga silahkan ganti IC VERTIKAL 78141 . 

Jika sejauh ini tv masih juga  STANDBY  maka kemungkinan standby dapat di akibatkan dari IC MICOM HBT-05-001G / HBT-01-005G / HBT-04-003G cara untuk memastikan ic tersebut rusak atau tidak silahkan ikuti langkah berikut . Pertama tama silahkan Cari TRANSISTOR C1815  DENGAN NO DIAGRAM T506  Lalu coba lepas KAKI COLEKTOR pada transistor tersebut Lalu colokan tv ke 220VAC Lalu UKUR KAKI EMITOR TRANSISTOR 882 NO DIAGRAM T502 HARUS ADA +5V DAN KAKI EMITOR TRANSISTOR 882 NO DIAGRAM T503 HARUS ADA +8V . Jika tegangan  NGEDROP / NGEDROB Maka positig IC MICOM HBT-05-001G / HBT-01-005G / HBT-04-003G ANDA RUSAK . 

JIKA ANDA MEMBUTUHKAN PART IC MICOM  HBT-05-001G / HBT-01-005G / HBT-04-003G SILAHKAN PESAN PADA LINK DI BAWAH INI:

 
3.GAMBAR PELANGI

Kerusakan ini bukan kerusakan serius , penyebab kerusakan tv ini biasanya karena TV DEKAT DENGAN SPEAKER AKTIF ATAU BARANG MENGANDUNG MAGNET LAINNYA . silahkan jauhkan TV anda dari barang lain yang mengandung magnet , dan juga da salah satu part yang rusak atau
 komponen rusak biasanya pada PTC:
GAMBAR BELANG
PTC YANG RUSAK
4.TIDAK BISA AV

Kerusakan ini dapat debabkan oleh bebrapa komponen , biasanya pada TRANSISTOR PEMBAGI AV SMD NO DIAGRAM T308 , T309 , T310 DENGAN SERI TRANSIDTOR " L.G " / " X.C " / " 1F " / " 3F " . DAN PERSAMAAN TRANSISTOR TERSEBUT SEBAGAI  BERIKUT :

 LG = 1F = C1815
XC= 3F = A1015

Jika transistor tersebut sudah di ganti , kemungkinan IC MICOM HBT-05-001G / HBT-01-005G / HBT-04-003G ANDA RUSAK .  Untuk memastikan ic micom anda rusak atau tidak silahkan ikuti petunjuk berikut .

Silahkan anda cari CAPASITOR ELKO DENGAN NO DIAGRAM C310 LALU COBA LEPASKAN CAPASITOR TERSEBUT DARI PAPAN PCB , LALU COLOK KAN TV ANDA KE 220VAC , JIKA  LAYAR TV TERJADI KEDIP KEDIP CLAP CLAP BERARTI IC MICOM ANDA MASIH BAGUS DAN RESPON TERHADAP SIGNAL AV , KEMUNGKINAN ANDA ADA KESALAHAN PADA SAAT PEMASANGAN TRANSISTOR PEMBAGI AV SILAHKAN DI CEK KEMBALI. NAMUN JIKA  TIDAK ADA RESPON SAMA SEKALI DAN LAYAR TV ANDA ADEM AYEM DAN TIDAK BER EFEK SEDIKIT PUN BERARTI IC MICOM HBT-05-001G / HBT-01-005G / HBT-04-003G ANDA RUSAK KARENA TIDAK DAPAT MERESPON SIGNAL AV . 

JIKA ANDA MEMBUTUHKAN PART IC MICOM  HBT-05-001G / HBT-01-005G / HBT-04-003G SILAHKAN PESAN PADA LINK DI BAWAH INI:

Thursday, November 19, 2020

 

Power Supply merupakan salah satu peralatan yang dibutuhkan dalam komunikasi radio, khususnya bagi Rekan-Rekan amatir yang beroperasi dari Base Station. Sedangkan bagi Rekan-Rekan amatir yang mobile, maka kebutuhan akan sebuah Power Supply bisa digantikan dengan batu baterai atau Accu, baik Accu mobil atau Accu motor.
Oleh sebab itu, kehadiran sebuah Power Supply yang handal sangatlah diperlukan, terutama untuk Rekan-Rekan amatir yang mengoperasikan Transceiver Rig dari Base Station. Power Supply sama pentingnya dengan SWR Meter, bahkan bisa dibilang lebih penting !!.
Power Supply yang dibutuhkan oleh sebuah Transceiver Handy Talky yang berdaya rendah ( dibawah 5 Watt ) biasanya berdaya 9 Volt dengan maksimum arus sekitar 2 A.
Untuk Transceiver VHF maupun UHF yang berdaya sedang ( sekitar 30 Watt output ) biasanya berdaya 13,8 Volt dengan arus maksimum 5 A. Sedangkan untuk Transceiver HF All Band atau Booster yang berdaya keluaran sekitar 100 Watt, maka dibutuhkan Power Supply 13,8 Volt dengan arus maksimum sekitar 25 A.
Power Supply bertugas merubah tegangan listrik AC menjadi tegangan listrik DC yang stabil sampai suatu arus maksimum yang ditentukan oleh design.
Adaptor dan Charger untuk HP sebenarnya merupakan sebuah Power Supply berdaya rendah tetapi arus maksimumnya sangat kecil sehingga tidak dapat digunakan untuk mengoperasikan sebuah Transceiver Rig yang berdaya sedang dan besar.
Adaptor paling-paling hanya bisa digunakan untuk Power Supply Handy Talky yang berdaya keluaran maximum 2,5 Watt.
Dalam mempergunakan Power Supply atau Adaptor agar selalu diperhatikan:
  1. Tegangan keluaran Power Supply.
  2. Maksimum arus yang bisa disupply oleh Power Supply.
  3. Polaritas tegangan dari Power Supply.
Syarat-syarat sebuah Power Supply yang handal:
  1. Tegangan output DC harus konstan, mulai dari tanpa beban sampai arus maksimum yang ditentukan oleh design. Jadi, jika sebuah Power Supply di design untuk menghasilkan tegangan output DC 13,8 Volt dengan kemampuan arus maksimum 25 A, maka tegangan outputnya akan tetap sebesar 13,8 Volt sampai arusnya 25 A. Jika arus yang dikeluarkan melebihi 25 A, maka tegangan outputnya akan turun dibawah 13,8 Volt.
  2. Tegangan output DC akan konstan walaupun tegangan input AC berubah-ubah naik atau turun, sepanjang dalam batas toleransi yang diizinkan. Jadi, jika sebuah Power Supply 13,8 Volt 20 A di design untuk beroperasi pada tegangan input 200 Volt AC s/d 240 Volt AC, maka tegangan output DC akan tetap stabil pada 13,8 Volt walaupun tegangan listrik input AC turun sampai 200 Volt ataupun naik sampai 240 Volt.
Rekan-Rekan yang berkantung cukup tebal bisa membeli Power Supply 13,8 Volt 25 A yang siap pakai karena cara tsb merupakan cara yang paling mudah. Akan tetapi harganya tentu cukup mahal, bahkan hampir setara dengan harga sebuah Transceiver VHF bekas seperti ICOM IC-25A. Power Supply yang Branded seperti merk ALINCO, KENWOOD, dsb harganya bisa lebih mahal lagi.

Membuat Power Supply 13,8 Volt 25 A atau 13,8 Volt 5 A.

Dalam kesempatan ini, Penulis ingin berbagi pengalaman membuat Power Supply kepada Rekan-Rekan amatir radio yang mempunyai hobby dalam bidang elektronika
Skema lengkap untuk Power Supply 13,8 Volt / 25 A dapat dilihat pada Gambar 1, sedangkan untuk skema Power Supply 13,8 Volt 5 A Penulis tidak menyiapkannya. Pada prinsipnya, skema kedua Power Supply tsb sama, hanya untuk membuat Power Supply 13,8 Volt / 5 A, maka beberapa komponen harus diubah atau diperkecil rating nya, yaitu :
  1. Trafo daya diubah dari 25 A menjadi 5 A.
  2. Dioda Bridge diubah dari rating 35 A menjadi rating 10 A saja.
  3. Condensator perata diubah dari 4 x 10.000 uF menjadi cukup 1 x 10.000 uF.
  4. Transistor “ External Pass “ 2N3055 dari 8 buah parallel diubah menjadi 2 buah parallel. Tentunya ukuran dan jumlah Heat Sink akan berkurang.
  5. Lain-lain hampir sama.
Otak dari rangkaian dasar skema Power Supply ini adalah IC type LM723 merk National ( atau Fairchild type 7723, atau type lain yang equivalent ). IC type LM 723 sangat terkenal pada era 1970-an karena menawarkan kemudahan membuat Power Supply yang handal.

Penjelasan Rangkaian Power Supply.

Lihat Gambar 1 sebagai referensi.

Transformator.

Tegangan Primer 220 Volt AC. Untuk tegangan Secunder, pilihlah Trafo yang mempunyai tap 20 Volt atau 25 Volt. Sebaiknya pilih Trafo yang tidak mempunyai center-tap untuk digunakan bersama dengan Diode Bridge.
Untuk Rekan-Rekan amatir radio yang ingin membuat Power Supply 13,8 Volt / 5 A, maka belilah Trafo yang mempunyai gulungan secundernya 20 Volt atau 25 Volt dengan rating minimum 5 A atau bahkan lebih.
Kalau mungkin belilah yang secundernya 10 A karena Trafo yang dijual di pasaran biasanya “ banci “, artinya kemampuan arusnya tidak sesuai dengan tulisan pada Trafo tsb.
Untuk Rekan-Rekan amatir radio yang ingin membuat Power Supply 13,8 Volt / 25 A maka belilah Trafo dengan gulungan secunder 20 Volt atau 25 Volt dengan rating minimum 25 A atau lebih.
Jangan lupa lengkapilah gulungan primer Trafo dengan FUSE 1 A untuk Power Supply 13,8 Volt / 5 A dan FUSE 5 A untuk Power Supply 13,8 Volt / 25 A.

Diode Bridge.

Gunakan Diode Bridge 10 A untuk Power Supply 13,8 Volt / 5 A dan Diode Bridge 35 A untuk Power Supply 13,8 Volt / 25 A. Kedua Diode ini berbentuk segi empat dan terbuat dari logam dengan lubang baut ditengahnya untuk menempelkan Diode Bridge ini ke Chassis / Kotak Power Supply.

Condensator Perata.

Untuk meperoleh Power Supply yang berkwalitas baik, gunakanlah paling sedikit 1 buah Condensator berkapasitas 10.000 uF / 50 Volt untuk Power Supply 13,8 Volt / 5 A.
Untuk Power Supply 13,8 Volt / 25 A, gunakanlah paling sedikit 4 buah Condensator berkapasitas masing-masing 10.000 uF / 50 Volt.
Makin besar kapasitas Condensator yang digunakan, maka akan makin baik kwalitas Power Supply yang kita buat. Jika kapasitas Condensator kurang, maka PSA bisa mengeluarkan dengung / hum.

Skema Power Supply 13,8 Volt / 25 A.

Daftar komponen membuat Power Supply 13,8 Volt:

Rangkaian Regulator LM 723.

Untuk kedua Power Supply ini ( selanjutnya Penulis sebut PSA agar ringkas ), Penulis memilih untuk memakai IC Regulator type LM723 atau uA723 atau sejenisnya. IC LM723 dipasarkan dalam bentuk Metal Can dan dalam kemasan Dual In Line Package ( DIP ) berkaki 14.
Harganya sangat murah, sekitar Rp 1500,- / buah untuk kemasan plastic DIP. Jika kita lihat IC tsb dari atas dengan tanda “ notch “ atau tanda “ dot “ di bagian atas IC, maka kaki 1 akan berada disebelah kiri atas dari tanda “ notch “ atau tanda “ dot “.

IC LM723 sangat terkenal sejak tahun 1970- an dan banyak dipakai untuk membuat Power Supply dengan tegangan output variable. Keunggulan dari IC LM723 dibandingkan dengan IC Regulator lainnya adalah :
  1. Mampu men-supply arus sampai 150 mA tanpa tambahan External Transistor.
  2. Tegangan Input DC bisa sampai maksimum 40 Volt.
  3. Tegangan output DC bisa diatur dari 2 Volt sampai 37 Volt.
  4. Mempunyai proteksi terhadap short circuit.
Untuk membuat PSA 13,8 Volt / 25 A maupun 13,8 Volt / 5 A, maka kita gunakan Basic rangkaian berikut ini.
VREF dari LM723 adalah 7,15 Volt. VREF terletak pada pin 6. Pin 5 – Non Inverting Input, terhubung dengan pin 6 melalui Resistor 1 KOhm / ½ Watt.
Maka :
V OUT = V REF x ( R1 + R2 ) / R2

Agar PSA yang kita buat bisa lebih flexible tegangan outputnya, maka kita bisa menambah sebuah Potentiometer P1 antara R1 dan R2 dan bisa dipilih nilai-nilai R1 , R2 dan P1 berturut-turut adalah sbb :
R1 = 1 K Ohm
R2 = 3 K Ohm
P1 = 3 K Ohm
Pin 4, Inverting Input akan mencapai tegangan seperti V Reference, yaitu 7,15 Volt.
Dengan demikian :
V OUT MAX = V REF x ( R1 + P1 + R2 ) / R2
dan
V OUT MIN = V REF x ( R1 + P1 + R2 ) / ( P1 + R2 )
Dengan nilai-nilai di atas, maka :
Tegangan Output Maksimum adalah =
7,15 Volt x ( 1K + 3K + 3K ) / ( 3K ) = 16,683 Volt.
Sedangkan Tegangan Output Minimum adalah =
7,15 Volt x ( 1K + 3K + 3K ) / ( 3K + 3 K ) = 8,341 Volt.
Rekan-Rekan bisa memilih nilai-nilai yang lain untuk R1 , R2 dan P1.

External Transistor dan Short Circuit Protection.

Mengingat LM723 hanya memiliki kemampuan men-supply arus sampai dengan 150 mA, maka untuk bisa men-supply arus sampai dengan 5 A atau bahkan 25 A, maka LM723 tsb harus diberi External Pass Transistor.
External Pass Transistor dapat meningkatkan arus maksimum dari PSA. Rangkaiannya sbb :

Salah satu Transistor Power NPN yaitu type 2N3055 memiliki kemampuan sampai 15 A dan mempunyai Power Dissipation sampai 115 Watt jika diberi Heat Sink yang cukup. Transistor 2N3055 ini sangat murah dan mudah didapat. Harganya berkisar Rp 5000,- / buah.
Untuk PSA 13,8 Volt / 25 A, Penulis sarankan agar memakai 8 buah Transistor NPN type 2N3055 yang dipasang pada 2 buah Heat Sink, masing-masing berukuran sekitar 20 cm x 10 cm.
Jangan lupa memberikan isolator plastic-mica pada setiap Transistor 2 N3055.
Untuk 8 buah Transistor 2N3055 , maka :
  • Semua Collector di parallel.
  • Semua Emitter di parallel.
  • Semua Base di parallel.
Mengingat hfe Transistor Power type 2N3055 ini sangat kecil, yaitu sekitar 10, maka pada saat PSA men-supply arus 25 A melewati Collector dan Emitternya, berarti arus yang melewati Base adalah ( 25 A / 8 ) = 3,125 A. Arus Base sebesar ini harus ditanggung secara bersama-sama oleh Base dari 8 buah Transistor.
Mengingat LM723 hanya bisa men-supply arus maksimum 150 mA, maka kita harus memasang sebuah Transistor NPN type 2N3055 lagi antara LM723 dengan Base dari 8 buah Transistor type 2N3055. Tanpa tambahan Transistor 2N3055 yang satu ini, maka IC LM723 akan rusak saat arus yang keluar dari IC LM723 mencapai lebih dari 150 mA.
Untuk PSA 13,8 Volt / 5 A, Penulis sarankan agar memakai 2 buah Transistor NPN type 2N3055 yang dipasang pada 1 buah Heat Sink, masing-masing berukuran sekitar 10 cm x 10 cm. Jangan lupa memberikan isolator plastic-mica pada setiap Transistor 2N3055.
Seperti halnya pada Power Supply 13,8 Volt / 25 A, maka :
  • Semua Collector di parallel.
  • Semua Emitter di parallel.
  • Semua Base di parallel.
Hfe Transistor Power type 2N3055 ini sangat kecil, yaitu sekitar 10, maka pada saat PSA men-supply arus 5 A melewati Collector dan Emitternya, berarti arus yang melewati Base adalah ( 5 A / 8 ) = 0,625 A.
Arus Base sebesar ini harus ditanggung secara bersama-sama oleh Base dari 2 buah Transistor.
Sama seperti sebelumnya, mengingat LM723 hanya bisa men-supply arus maksimum 150 mA, maka kita harus memasang sebuah Transistor NPN lagi antara LM723 dengan Base dari 2 buah Transistor type 2N3055. Tanpa tambahan Transistor NPN yang satu ini, maka IC LM723 akan rusak saat arus yang keluar dari IC LM723 mencapai lebih dari 150 mA.
Berbeda dengan Power Supply 13,8 Volt / 25 A, Transistor NPN yang berada antara pin 10 IC LM723 dan Base kumpulan Base Transistor 2N3055 ini boleh dipasang type 2N3055 juga, atau 2N3054 atau beberapa type Transistor Power NPN yang arus Collectornya mampu dilalui arus minimal 1 A.
Rekan-rekan bisa memakai type 2SC1060 atau 2SC1061 yang cukup murah harganya serta diberi Heat Sink yang cukup, minimum sekitar 3 cm x 5 cm saja.

Short Circuit protection.

Pada awal artikel ini, Penulis sudah menguraikan beberapa kelebihan IC LM723, yaitu IC LM723 mempunyai kelebihan yaitu “ Short Circuit protection “.
Artinya, jika terjadi short circuit pada beban, maka Trafo Daya akan terlindung dan tidak akan rusak.
Short Circuit protection dibentuk oleh tahanan RSC yang terletak pada Emitter dari Transistor NPN Power type 2N3055 sebanyak 8 buah.
Jika arus yang melewati PSA melebihi arus yang didesign, maka tegangan output PSA akan menjadi NOL sehingga Trafo tidak rusak.
Untuk Power Supply 13,8 Volt / 25A, dimana arus maksimum di design sebesar 25 A, maka besar RSC adalah :
RSC = 0,6 / 25 Ohm.
Dimana :
0,6 Volt adalah cut off voltage.
25 A adalah arus maksimum.
Sehingga untuk Power Supply 13,8 Volt / 25A diperoleh RSC sebesar 0,024 Ohm.
Untuk memperoleh nilai RSC sebesar 0,024 Ohm, maka Rekan-rekan bisa memasang beberapa Resistor Porcelain dengan nilai 0,24 Ohm / 5 Watt sebanyak 10 buah di parallel, sehingga akan memberikan nilai akhir 0,024 Ohm.
Jika Resistor ini sulit didapat, maka sebagai alternative lain adalah Resistor dengan nilai 0,18 Ohm / 5 Watt sebanyak 8 buah di parallel yang akan memberikan nilai akhir 0,0225 Ohm atau Resistor dengan nilai 0,22 Ohm / 5 Watt sebanyak 10 buah di parallel yang akan memberikan nilai akhir 0,022 Ohm.
Untuk Power Supply 13,8 Volt / 5A, dimana arus maksimum di design sebesar 5 A, maka besar RSC adalah :
RSC = 0,6 / 5 Ohm.
Diperoleh
RSC sebesar 0,12 Ohm.
Untuk memperoleh nilai RSC sebesar 0,12 Ohm, maka Rekan-rekan bisa memasang beberapa Resistor Porcelain dengan nilai 0,24 Ohm / 5 Watt sebanyak 2 buah di parallel, sehingga akan memberikan nilai akhir 0,12 Ohm.
Jika Resistor ini sulit didapat, maka sebagai alternative lain adalah Resistor dengan nilai 0,22 Ohm / 5 Watt sebanyak 2 buah di parallel yang akan memberikan nilai akhir 0,11 Ohm.

Heat Sink.

Untuk Heat Sink, Penulis sarankan agar memakai Heat Sink Aluminium yang berwarna hitam karena sudah di-anodizing. Makin besar ukuran Heat Sink yang dipakai, akan semakin baik Power Supply yang dibuat karena semua panas yang terjadi pada Transistor Power 2N3055 akan terserap pada Heat Sink.
Tambahan Kipas Angin pada bagian belakang Power Supply akan sangat membantu mendinginkan Transistor Power 2N3055 yang kita pakai.

Perkabelan.

Perlu diperhatikan dalam membuat Power Supply 13,8 Volt / 25A , sebaiknya memakai kabel berukuran besar yang tahan dilalui arus sampai 25A.
Penulis memakai kabel 2,5 mm2 rangkap 2. Kabel sebesar ini harus dipasang pada jalur “ positive “ yaitu antara :
  • Jalur Trafo dengan Diode Bridge.
  • Jalur antara Diode Bridge dengan Condensator 10.000 uF.
  • Jalur antara Condensator 10.000 uF dengan semua Collector Transistor type 2N3055.
  • Jalur antara Emitter semua Transistor 2N3055 dengan Resistor RSC.
  • Jalur antara RSC dengan Ampere Meter.
  • Jalur antara Ampere Meter dengan terminal Banana Socket positive pada Power Supply.
Selain pada jalur positive, maka pemakaian kabel 2,5 mm2 rangkap 2 juga harus dilakukan pada jalur antara Diode Bridge negative dengan terminal Banana Socket negative pada Power Supply.

Voltmeter dan Ampere Meter.

Untuk Power Supply 13,8 Volt / 25A, bisa ditambahkan Ampere Meter dengan penunjukan maksimum 30A sedangkan untuk Power Supply 13,8 Volt / 5A, maka Ampere Meter dengan penunjukan maksimum 10A cukup memadai.
Untuk kedua jenis Power Supply tsb, sebaiknya mempergunakan Voltmeter dengan penunjukan maksimum 20 Volt DC agar terlihat dengan jelas.

LED ON Power Supply

Untuk melengkapi tampilan Power Supply tsb, Rekan-rekan bisa memasang 1 buah LED yang di serie dengan Resistor 2K2 Ohm / ½ Watt antara kedua terminal Banana Socket positive dan negative.

Grounding.

Ground dari socket input AC, body Trafo dan negative PSA semua dihubungkan ke Chassis.


sumber :  http://www.jz09zwp.net/

Tuesday, October 20, 2020

PENGERTIAN TCON

 Banyak teknisi biasa bergelut dg Tcon.

Tapi mereka masih asing dan buta sama sekali dalam memahami kerja dan fungsi Tcon.
Mereka hanya asal ngikut apa kata Facebook atau Youtube, tapi tdk memahami kenapa kok harus begitu.
Dengan tulisan artikel yg sederhana ini, semoga bisa sedikit melek memahami Tcon.
Modul Tcon standard secara umum terdiri dari :
• IC Multi Psu.
Befungsi membangkitkan macam2 tegangan dari Vcc input menjadi bermacam-macam tegangan yg dibutuhkan pd ic-ic yg terdapat modul Tcon, seperi AVdd, Vgh, Vgl, Vdd, Vcom. Pd modul Tcon umumnya juga terdapat IC LDO untuk menurunkan tegangan 3.3v menjadi 1.8/1.2v
• IC Timing Control.
Berfungsi untuk memproses data gambar RGB LVDS (analog) dari mainboard menjadi data gambar RGB (digital) yg cocok untuk diumpankan ke panel kaca. Input data gambar LVDS merupakan data gambar RGB dan sinyal sinkronisasi Horisontal/Vertikal.
Output IC Timing adalah :
1) Sinyal data gambar diumpankan ke panel kaca lewat COF data gambar yg biasa ada di atas atau kdg dibawah panel kaca.
2) Pulsa2 Timing untuk Gate Driver dg nama2 seperti misalnya OE, CPV, CKV dll.
Pulsa2 Timing diinputkan ke ic Level Shifter. Untuk panel pakai kupingan pulsa2 diinputkan ke kupingan, sebab Level Shifter ada di kupingan.
Timing Control mendapat tegangan Vdd 3.3v.
• IC Level Shifter.
Berfungsi untuk merubah LEVEL tegangan sinyal Timing dari is Timing Control masih rendah ( 3.3v) menjadi sinyal dg level tegangan yg tinggi (antara Vgl – Vgh).
Pulsa2 level tegangan tinggi untuk Gate driver ini pd panel Samsung/China misalnya dinamakan Ckv, Ckvb, STV. Pada panel AUO dinamakan Lc, Hc. Pada panel LG dinamakan Clk1 ~ Clk6.
Pulsa2 ini diumpankan kepanel kaca lewat dua arah, ke kanan-kiri panel dalam kaca secara sinkron. Klo kanan kiiri tdk sinkron biasanya akan menyebabkan gambar getar/double, dimana solusinya yg sering dilakukan adalah cut kiri atau kanan.
Level Shifter mendapat tegangan Vgh dan Vgl.
• IC Gamma.
Berfungsi untuk membangkitkan sederetan tegangan2 Gamma, yg mempunyai deretan tegangan semacam tangga, sebagai tegangan referensi untuk mengatur linearitas gambar. Tegangan2 Gamma bersama V.com diinputkan ke panel kaca lewat COF yg ada diatas atau kdg dibawah layar kaca.
IC Gamma mendapat tegangan AVdd.
Beberapa macam Tcon nampak berbeda, hal ini karena :
• IC Multi Psu, IC Timing, IC Level Shifter jadi satu kesatuan. Misal BD8193 pada panel Samsung.
• Walaupun jarang. Aga tipe panel dimana ic gamma terdapat dalam COF data gambar
• Panel dengan kuping. IC Level Shifter ada di kupingnya. Karena itu kupingan memerlukan tegangan2 Vcc 3.3v, Vgh, Vgl
• Pabrikan panel yg besar adalah Samsung, Chimei, LG, AUO, Sharp. Mereka saling berlomba/bersaing dalam menciptakan teknologi panel. Karena itu cara kerjanya masing2 ada perbedaan (banyak teknisi yg berpikir semua panel sama)
Sang MAESTRO... MARSONO TEKNIK